mp3

Selasa, 26 April 2016

Dragon Nest Awakening | Vengencea Of Nightmare II

Dragon Nest Awakening

Author : NaaChan

Rate : PG-15


“ Fanfict ini hasil karyaku dan hanya dipublis di catatan FB saya bukan dipublis dimana-mana, jika ada tutur kata yang kurang menyenangkan dihati para pembaca saya minta maaf sebesar-besarnya “


*

Malam ini, disalah satu desa tersebut tengah diselimuti kabut tebal, terlihat seorang lelaki dengan rambut sedikit berdiri namun beraturan dan bermata merah itu hanya terus berjalan tanpa tau tempat yang akan ia singgahi. Kakinya pun terus melangkah kedepan terlihat sebuah cahaya lampu yang bersinar dipekatnya kabut tersebut, seakan cahaya lampu itu melambai untuk memanggil lelaki tersebut agar ia mendekatinya.
Langkah demi langkah pun ia tempuh namun disaat itu juga kabut pekat yang menutupi kota tersebut perlahan mulai hilang, alangkah terkejutnya lelaki tersebut saat ia melihat dirinya dalam wujud yang sedikit menyeramkan tengah menghempaskan pedangnya pada perut wanita muda yang ternyata adalah kekasihnya sendiri dari ras elf.

“ ini kenapa setiap mimpiku selalu seperti ini “

Ucap lelaki tersebut sembari melangkah mundur, berharap menjauh dari apa yang ia lihat. Disaat itu cerminan dia dalm wujud yang beda hanya tersenyum senang akan apa yang telah ia perbuat dan mulai menatapi lelaki tersebut. ia pun mulai mendekati lelaki tersebut sembari menarik pedang besarnya.

“ cepat atau lambat kau harus akui keberadaanku “

Ucapnya dengan terus mendekatinya, namun tidak dengan lelaki itu. ia hanya berusaha menjauh dengan melangkahkan kakinya ke belakang. Ia merasakan ketakutan yang teramat sangat saat melihat bahwa dirinya tengah di kuasai oleh dendamnya. Dia memang menginginkan kekuatan tetapi bukan seperti ini.

“ inilah alasan mengapa kau itu menyedihkan, kau seharusnya berterima kasih kepadaku karena selama ini aku yang selalu meminjamkan kekuatanku tetapi kau selalu mengecewakanku dan mulai saat ini kau lebih baik berada dineraka sekarang dan aku diposisimu “

Ucapnya dengan mulai mengayunkan pedang tersebut ke arah kepalanya dan saat itu ia pun tersadar dari mimpi buruknya. “ hanya mimpi “ lirih dengan pelan dan seketika keringat pun merembas dari pori-pori wajahnya dan mengalir dengan cepat. Baginya ini sangat menakutkan kenangan itu, kenangan yang sudah ia buang jauh kini kembali datang menghantuinya kembali, mengapa engkau biarkan aku menginggat kesalahanku dimasa lalu itu goddess? Jerit lelaki itu didalam batinnya. Perlahan ia mulai bangun dari tempat tidurnya dan mulai menlangkahkan kakinya menuju jendela dan segera membukanya dan mulai menyambut datangnya sang mentari. Seperti biasa orang-orang pun berlalu-lalang mememadati Lotus Marsh, mereka mengejar pekerjaan yang tertinggal saat kemarin atau aktifitas pentingnya begitu pun dengan salah seorang gadis itu.
Seorang gadis itu mulai mendekati grocery shop untuk membeli beberapa makanan dan obat-obatan pemulih mana. Dilihat dari mata lelaki tersebut ia bisa menebak bahwa dia merupakan salah satu Sorcerrer. Pandangannya pun tidak pernah lepas pada wanita tersebut kini gadis itu bagaikan seekor kelinci untuk ia santap. Kemana pun ia pergi selalu ia perhatikan dengan amat jeli namun.... kemanakah dia pergi? Seketika ia menghilang begitu saja, dia pasti bercanda akan ini? Mungkinkah itu adalah triknya?


“ dasar penguntit, kau fikir aku tidak tau huhh?! “

Tanpa lelaki itu sadari, ia sudah berada dibelakangnya dengan menatapi seolah lelaki itu adalah lelaki hidung belang yang begitu menjijikannya hingga tampak jelas dari lukisan wajahnya.

“ siapa yang menguntit kau? Dasar wanita aneh! “

Balas lelaki itu dengan nada santai dan sedikit berbohong. berbohong adalah salah satu cara yang ampun untuk menjauhkan masalah. Namun wanita itu seakan tidak mempercayainya, ia terus menekannya dalam posisi terpojok.

“ lalu apa maksudmu melihatku seperti itu setiap pagi? “

“ desa ini sangat banyak orang yang berlalu-lalang, jika aku melihatmu mungkin itu adalah ketidak sengajaan jadi jangan salah paham “

Lelaki itu mencoba menutupi kebenarannya, tetapi seakan kesabarannya tengah diuji olehnya. Ia ucapannya mulai tidak sopan kepadanya. tetapi ia masih mencoba mengontrol emosinya namun pada akhirnya ia pun kehilangan kontrolnya, ia begitu kesal akan setiap ucapannya.

“ hey jalang! Sudah kubilang aku tidak seperti itu! mengapa kau tidak mempercayaiku? “

“ apa?! jalang?!!! Hey hidung belang! Sudah salah tidak mau mengaku pula, oh aku tau bilang saja ini adalah awal dari aksimu untuk menculikku dengan sebagai penguntit.... hey!!! Apa yang kau lakukan padaku?!
Lelaki itu pun terpaksa mendorong wanita itu keluar dari kamarnya. Ia mulai tidak tahan akan omelannya yang terus mengema ditelinganya dan mulai menutup pintunya dengan keras tepat didepannya.
“ huhh?! Beginikah sikapnya pada wanita? Hidung belang tidak tau diri!! Sudah salah tidak mau mengaku lagi, lihat saja nanti, akan ku balas perbuatannya itu! “ lirih wanita itu dengan terus berjalan menuju keluar penginapan tersebut, keributan yang ia buat menarik beberapa perhatian setiap orang yang berada disana, namun wanita itu tidak mau memperdulikannya sedikitpun ia hanya terus melangkahkan kakinya menjauh dari tempat tersebut.


**


Wanita aneh! Hanya kata itulah yang ia ucapkan setelah dikejutkan kehadirannya dan oleh tingkahnya, itu seperti sinetron di pagi hari dengan konflik yang selalu menghiasi alur ceritanya. Pandangannya pun ia tertuju pada langit yang cerah. 5 menit lamanya ia menatap langit rasa bosan pun menghampiri lelaki itu dan disaat itu pun juga matanya tertuju pada kumpulan warga dan para petualang tersebut di salah satu papan kayu dengan keadaan sedikit usang tempat berbagai informasi yang berada di pusat pusat kota. Ia masih duduk manis mematung tepat di jendela itu, ia hanya sedikit penasaran mungkin baginya bukan informasi yang menarik ucap batinnya.

“ kita tidak menyangka, desa ini yang dulunya aman dan tentram kini akan mendapat masalah yang serius seperti ini “ ucap salah satu wanita yang tengah mulai membicarakan isu tersebut.

“ mungkinkah itu ulang Black Dragon? “ tanya salah satu wanita lawan bicaranya.

“ jangan konyol! Black Dragon itu sudah punah 20 tahun yang lalu, mana mungkin dia kembali lagi “
Potong dengan tegas pernyataan wanita tersebut.

“ aku hanya menebaknya saja, lagi pula aku ini bukan dari  sini! Kau ini menyebalkan sekali! Atau mungkinkah Karahan yang melakukan ini semua? “

Ucap lawan bicaranya dengan ketus. Dan kembali melanjutkan perjalanannya kembali bersama dengan wanita yang menjadi lawan bicaranya tersebut. Karahan? Bukankah dia itu lelaki yang menjadi penyihir yang terobsesi pada kekuatan Dragon itu? ia tidak ingin terlibat dengan semua masalah yang ada disini pikirnya.


Mychella POV~


~kuuk

Rintihan para naga kecil tak berkaki ( cacing ) pun mulai terdengar dari dalam perut wanita itu, emosinya kepada lelaki itulah yang membuatnya ia harus kehilangan beberapa energinya sebisa mungkin ia harus mengisinya kembali agar cacing itu tidak membuat kegaduhan yang membuatku malu di tempat umum seperti ini.

“ chicken drumsticknya 3 dan susu porsi besar 1 ya pak “

Selera makan yang cukup besar bukan?  Ini bukanlah yang pertama kalinya dalam hidupku, tidak hanya 3 bahkan ia pun sanggup memakan chicken drumstick hingga 8-10. Saat ia tengah asik memakannya perhatiannya tertuju pada para pertualang yang entah dari mana asalnya berlari menuju papan kayu tersebut. ada apa ini? Apakah ada sesuatu yang penting? Rasa penasarannya yang tinggi membuat ia harus bangun dari tempat duduknya dan meninggalkan beberapa makanannya dan mendekati papan tersebut semoga ini berita yang baik untukku lirih pada batinnya.

“ chella, kau belum membayarnya “ ucap si penjual drumstick dengan menoleh kepada wanita tersebut.

“ aku tau itu paman, sebentar saja aku ingin lihat ada rame apakah disana “

jawab wanita itu dengan membawa drumsticknya dan kemudian mulai mendekatinya. Dan kini ia sudah berada di barisan belakang dan kemudian mulai memasuki setiap celah-celah yang ada. Kadang ia harus bersyukur karena ia memiliki badan yang langsing walaupun ia terbilang wanita dengan selera makan yang besar.

“ mutan habitat? Sepertinya dungeon itu baru ku dengar “ ucap wanita itu sembari memakan sisa Drumsticknya, awalnya ia tidak begitu tertarik untuk menyelesaikannya tetapi setelah ia melihat rewardnya berupa 20gold dan beberapa item ia sangat bersemangat untuk memasukinya. Segeralah ia keluar dari kumulan orang-orang yang ada disana dengan cepat dan menuju kembali ke food court untuk memakan kembali pesanannya.

“ paman apakah kau tau sarang mutan habitat? “ tanyanya dengan rasa penasaran.

“ tau donk.... “

ucap singkat paman penjual drumstick tersebut. seakan mendapat sinyal ia pun mulai menanyakan hal yang mendetail tentang tempat tersebut namun ia harus sedikit kecewa saat paman itu melarangnya memasuki tempat tersebut, entah mengapa dia melarangku? Tetapi rewardnya yang lumayang membuat wanita itu tidak merubah pikirannya bahwa ia harus kesana dan mencari beberapa benda yang ada disana. Jika mencari sendiri mungkin akan sulit tetapi dengan siapa ia harus mengajaknya, ia terus berfikir apa harus dia membuat satu party dalam mengerjakannya atau tidak? Disaat itu langkahnya pun terhenti dan ia baru saja menyadari siapa yang harus ia ajak.


***


Lelaki itu masih memandangi langit, terkadang kenangan ini tidak mau hilang dari pikirannya. Mengapa goddess melakukan ini semua kepadanya? lamunannya pun seketika terganggu saat beberapa batu yang berukuran kecil itu mendarat di keningnya. Ia mulai mencari siapa pelakunya yang berani melemparkan batu tersebut tetapi kemarahannya mulai memuncak saat ia tau  siapa yang melakukannya

“ kamu?! Mau apa lagi?! “ tanyanya dengan nada kesal.

“ hey penguntit!aku butuh bantuanmu “ jawab wanita dengan nada keras, wajarlah ia sedikit mengeraskan suaranya jarak tempat ia berdiri dengan kamar lelaki itu sedikit lebih tinggi.
Lagi-lagi ia dibuat kesal akan ucapannya, ia segera menolaknya mentah-mentah dan mengusirnya dengan sedikit kasar dan segera pergi dari tempat ia berada, namun saat ia berbalik ia dikejutkan oleh kehadirannya yang sudah berada di kamarnya.

“ tidak sopan jika pergi begitu saja tanpa mendengarkan orang yang tengah berbicara!, sudah penguntit, hidung belang kini tempramental yang tak tau diri juga, yaa ampun kau lelaki dengan sikap yang buruk sekali “ jawabnya dengan mengelengkan kepalanya, baginya sarkastiknya terlalu menyakitkan untuk didengar wajar saja lelaki tersebut selalu kehilangan kesabarannya akibat ucapannya.

“ atau begini saja, aku akan berhenti memanggilmu seperti itu dan memaafkanmu tetapi dengan satu sarat, kau harus membantuku kedalam sarang itu “ ucap wanita dengan nada santai dan menunjukan senyumnya.

Tidak ada komentar: